Thank You! Ei Lab, You Rock!

09.05

Selamat Malam, netizen blog gue yang budiman.

Kali ini gue lagi pengen banget cerita tentang Farewell Party yang sekaligus merupakan titik akhir gue untuk menjadi Pengurus Harian di Ei Lab periode 2017. Masih belum bisa move on dari apa yang selama ini gue dedikasikan buat Lab gue tercinta ini. Mulai dari jadi staf PDD di Brawijaya Startup Action 2015, Brawijaya Startup Action 2016, dan berkesempatan menjadi Head of Marketing Division di Brawijaya Startup Action 2017 yang baru selesai bulan Desember kemaren.

Nggak bisa gue pungkiri kalo Ei Lab sangat berjasa bagi karir desain-mendesain yang gue gelutin sampai saat ini. Dari yang gue nggak bisa desain sama sekali sampe menjadi gue yang punya usaha desain grafis sendiri buat sekedar nambah uang jajan buat beli sempol 500-an.

Mungkin sudah beberapa kali gue sebut dan cerita ke temen-temen kalo dari Ei Lab-lah kemampuan desain gue berkembang. Lab ini yang dengan  nekat percaya diri menerima gue menjadi staf PDD di BSA tahun pertama, sedangkan gue yang saat itu posisinya sedang dalam tahap belajar desain dan jelek banget dah pokoknya, penuh ke-tidak-estetikan, ditolakin pas ikutan daftar oprec kepanitiaan karna pengalaman yang minim.


Dengan kepercayaan yang diberikan, gue dengan penuh semangat belajar desain pake Corel Draw. Nggak cuma itu, gue belajar untuk bisa bersosialisasi dengan orang lain. Berhubung gue termasuk orang yang males banyak berhubungan sosial dengan orang, dengan ikut kepanitiaan kayak gini bisa jadi tempat menempa diri menjadi orang yang peduli dengan lingkungan dan orang lain.

Gue juga jadi banyak kenal dan ngobrol sama kating-kating terutama terkait perkuliahan karna notabene saat itu gue masih maba dan noob banget.

Gue belajar buat atur waktu karena selain kuliah gue harus nyisihin waktu buat ngurusin event dengan anggota tim yang sangan lean. Seinget gue cuma ada tiga orang di divisi PDD (Gue, Wenning, dan Mas Aldo selaku CO nya). Divisi yang lainnya juga dikit banget orangnya.

Meski gue saat itu (beberapa bulan setelah berakhirnya BSA 2015) ditolak pas ikutan daftar jadi pengurus harian Ei Lab periode 2016, gue tetep nggak bisa melupakan betapa baiknya lab ini. Karena selain apa yang diajarin disana itu bermanfaat banget (karena nggak diajarin di perkuliahan biasa), tapi lingkungannya juga positif. Dulu gue tahu diri aja sih bakal ditolak sama lab ini pas daftar jadi PH. Karna ya gue udah kepilih jadi pengurus di BEM dan RSC (Kepenulisan FIA) saat itu. Dan karena Ei Lab ini budaya kerjanya emang lean dan ngambil tim yang sedikit, ya otomatis mereka bakalan memilih PH yang fokus ke lab dan nggak sibuk dengan hal lain diluar sana.

Ya gue sadar terlalu menggebu-gebu sih dulu. Biasa, maba kan pengen nyobain apa aja kan ya. Eksplorasi berlebihan. Bakalan protol juga satu-satu seiring berjalannya waktu. Karna emang selain terikat jadi pengurus di BEM dan RSC, gue juga ikutan ekskul music FIA (AMC) sebagai player. Meskipun di AMC ini juga gue nggak berperan penting-penting banget sih.

Dulu gue berfikiran untuk menjadikan si ekskul musik sebagai pelarian kalo misal gue stres dengan kegiatan tetek-bengek kampus. Tapi nyatanya nggak ngefek-ngefek juga. Malah gue lebih tertarik buat melajarin Business Model Canvas dan jadi tahu apa itu startup karna jadi panitia di BSA 2015. Meski saat itu masih belum terlalu booming istilah startup, dan gue merasa keren karna lebih tau duluan ketimbang temen-temen. HAHA.

Akhirnya, setelah satu tahun menjalani kehidupan keorganisasian, gue daftar lagi jadi staf PDD di Brawijaya Startup Action 2016. Mendedikasikan kemampuan gue untuk event yang kece ini lagi. Dan Alhamdulillah-nya, nggak ditolak buat kali ini.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya sampe di awal tahun 2017 dan gue mulai menekadkan diri untuk nggak daftar apa-apa nungguin oprec Ei Lab aja. Entah bakalah diterima atau ditolak (lagi) gue pasrah aja sih. Diterima gue bakalan seneng banget. Kalo ditolak ya gue fokus ajalah jadi freelance desain grafis biar nggak gabut banget.

Dan dengan sangat bangga gue ketika melihat pengumuman dan mendapati nama gue muncul disana. Ini nggak lebay sih. Tapi emang prestise banget buat jadi salah satu dari 16 pengurus harian Lab terkece se-FIA ini.

Gimana nggak.
Bisa dong dibayangin gimana gue bisa kerja di ruangan penuh dengan Mac yang super canggih, fasilitas WiFi yang punya lab sendiri kencengnya sampe bikin pingsan, dan yang terpenting sih ilmu tentang BMC dan segala tentang per-startup-an. Networking disini juga gilak sih. Banyak kenalan sama orang-orang yang nge-built startup dan bisa dijadiin mentor kalo misalnya butuh konsultasi tentang bisnis rintisan. Kenal sama dosen-dosen yang keren banget ilmunya pokoknya  jempolan!

Tapi ya ternyata cepet aja semuanya berlalu, ya.
Gak terasa udah satu tahun aja gue menjabat jadi salah satu staf di Marketing & Co. Working Space Ei Lab.

Banyak banget.
Banyak banget yang gue pelajarin, yang gue dapet.
Nggak cuma tentang teori, tapi juga disini gue jadi berani untuk nyoba ikutan lomba (sampe akhirnya ketagihan).

Dapet challenges buat bisa kerja dengan lingkungan yang sangat dinamis dan tugas yang kadang dadakan. Jadi Head of Marketing dimana gue posisinya yang selalu jadi staf dan nggak bisa banget jadi pemimpin.

Dan yang saat ini masih terasa mimpi ya opportunity gue bisa jadi PO ESPRIEX 2018.
Gilak sih ini.
Gue nggak tahu kenapa gue bisa dengan beraninya daftar ikutan oprec PO sampe akhirnya jadi Project Officer acara gede se-ASEAN.

Gue nggak mengingkari hal ini nggak bisa terlepas dari gue yang pernah ditempa di Ei Lab. Dengan pengetahuan minim gue tentang startup, BMC, tim kerja yang lean, waktu yang singkat, semuanya bisa menjadi kekuatan gue untuk jadi Project Officer ESPRIEX 2018.

Udah sebersyukur itu gue jadi bagian Ei Lab, gue juga dikasih award jadi Best Staf di kepengurusan periode tahun 2017. Gue nggak tau mau ngomong apa selain terima kasih yang sebesar-besarnya-besar. Yang jelas gue mah selama satu tahun di Ei lab ini nggak pernah merasa tertekan dan ambis karena memang bener-bener enjoy dan melakukan semuanya atas dasar pengen belajar aja.

Sekali lagi makasih Ei Lab.
Makasih atas kesempatannya.
Makasih atas bimbingannya.
Makasih atas segala kepercayaan yang telah diberikan.
Semoga ada tidaknya Ei Lab di periode selanjutnya, bakal tetep memberikan insight positif buat orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya.

Laffff,
-Chiki

You Might Also Like

1 komentar

  1. It's because you rock Ei Lab sis. It would be different if it didnt have you.

    BalasHapus

Thank You! Ei Lab, You Rock!

Selamat Malam, netizen blog gue yang budiman.

Kali ini gue lagi pengen banget cerita tentang Farewell Party yang sekaligus merupakan titik akhir gue untuk menjadi Pengurus Harian di Ei Lab periode 2017. Masih belum bisa move on dari apa yang selama ini gue dedikasikan buat Lab gue tercinta ini. Mulai dari jadi staf PDD di Brawijaya Startup Action 2015, Brawijaya Startup Action 2016, dan berkesempatan menjadi Head of Marketing Division di Brawijaya Startup Action 2017 yang baru selesai bulan Desember kemaren.

Nggak bisa gue pungkiri kalo Ei Lab sangat berjasa bagi karir desain-mendesain yang gue gelutin sampai saat ini. Dari yang gue nggak bisa desain sama sekali sampe menjadi gue yang punya usaha desain grafis sendiri buat sekedar nambah uang jajan buat beli sempol 500-an.

Mungkin sudah beberapa kali gue sebut dan cerita ke temen-temen kalo dari Ei Lab-lah kemampuan desain gue berkembang. Lab ini yang dengan  nekat percaya diri menerima gue menjadi staf PDD di BSA tahun pertama, sedangkan gue yang saat itu posisinya sedang dalam tahap belajar desain dan jelek banget dah pokoknya, penuh ke-tidak-estetikan, ditolakin pas ikutan daftar oprec kepanitiaan karna pengalaman yang minim.


Dengan kepercayaan yang diberikan, gue dengan penuh semangat belajar desain pake Corel Draw. Nggak cuma itu, gue belajar untuk bisa bersosialisasi dengan orang lain. Berhubung gue termasuk orang yang males banyak berhubungan sosial dengan orang, dengan ikut kepanitiaan kayak gini bisa jadi tempat menempa diri menjadi orang yang peduli dengan lingkungan dan orang lain.

Gue juga jadi banyak kenal dan ngobrol sama kating-kating terutama terkait perkuliahan karna notabene saat itu gue masih maba dan noob banget.

Gue belajar buat atur waktu karena selain kuliah gue harus nyisihin waktu buat ngurusin event dengan anggota tim yang sangan lean. Seinget gue cuma ada tiga orang di divisi PDD (Gue, Wenning, dan Mas Aldo selaku CO nya). Divisi yang lainnya juga dikit banget orangnya.

Meski gue saat itu (beberapa bulan setelah berakhirnya BSA 2015) ditolak pas ikutan daftar jadi pengurus harian Ei Lab periode 2016, gue tetep nggak bisa melupakan betapa baiknya lab ini. Karena selain apa yang diajarin disana itu bermanfaat banget (karena nggak diajarin di perkuliahan biasa), tapi lingkungannya juga positif. Dulu gue tahu diri aja sih bakal ditolak sama lab ini pas daftar jadi PH. Karna ya gue udah kepilih jadi pengurus di BEM dan RSC (Kepenulisan FIA) saat itu. Dan karena Ei Lab ini budaya kerjanya emang lean dan ngambil tim yang sedikit, ya otomatis mereka bakalan memilih PH yang fokus ke lab dan nggak sibuk dengan hal lain diluar sana.

Ya gue sadar terlalu menggebu-gebu sih dulu. Biasa, maba kan pengen nyobain apa aja kan ya. Eksplorasi berlebihan. Bakalan protol juga satu-satu seiring berjalannya waktu. Karna emang selain terikat jadi pengurus di BEM dan RSC, gue juga ikutan ekskul music FIA (AMC) sebagai player. Meskipun di AMC ini juga gue nggak berperan penting-penting banget sih.

Dulu gue berfikiran untuk menjadikan si ekskul musik sebagai pelarian kalo misal gue stres dengan kegiatan tetek-bengek kampus. Tapi nyatanya nggak ngefek-ngefek juga. Malah gue lebih tertarik buat melajarin Business Model Canvas dan jadi tahu apa itu startup karna jadi panitia di BSA 2015. Meski saat itu masih belum terlalu booming istilah startup, dan gue merasa keren karna lebih tau duluan ketimbang temen-temen. HAHA.

Akhirnya, setelah satu tahun menjalani kehidupan keorganisasian, gue daftar lagi jadi staf PDD di Brawijaya Startup Action 2016. Mendedikasikan kemampuan gue untuk event yang kece ini lagi. Dan Alhamdulillah-nya, nggak ditolak buat kali ini.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya sampe di awal tahun 2017 dan gue mulai menekadkan diri untuk nggak daftar apa-apa nungguin oprec Ei Lab aja. Entah bakalah diterima atau ditolak (lagi) gue pasrah aja sih. Diterima gue bakalan seneng banget. Kalo ditolak ya gue fokus ajalah jadi freelance desain grafis biar nggak gabut banget.

Dan dengan sangat bangga gue ketika melihat pengumuman dan mendapati nama gue muncul disana. Ini nggak lebay sih. Tapi emang prestise banget buat jadi salah satu dari 16 pengurus harian Lab terkece se-FIA ini.

Gimana nggak.
Bisa dong dibayangin gimana gue bisa kerja di ruangan penuh dengan Mac yang super canggih, fasilitas WiFi yang punya lab sendiri kencengnya sampe bikin pingsan, dan yang terpenting sih ilmu tentang BMC dan segala tentang per-startup-an. Networking disini juga gilak sih. Banyak kenalan sama orang-orang yang nge-built startup dan bisa dijadiin mentor kalo misalnya butuh konsultasi tentang bisnis rintisan. Kenal sama dosen-dosen yang keren banget ilmunya pokoknya  jempolan!

Tapi ya ternyata cepet aja semuanya berlalu, ya.
Gak terasa udah satu tahun aja gue menjabat jadi salah satu staf di Marketing & Co. Working Space Ei Lab.

Banyak banget.
Banyak banget yang gue pelajarin, yang gue dapet.
Nggak cuma tentang teori, tapi juga disini gue jadi berani untuk nyoba ikutan lomba (sampe akhirnya ketagihan).

Dapet challenges buat bisa kerja dengan lingkungan yang sangat dinamis dan tugas yang kadang dadakan. Jadi Head of Marketing dimana gue posisinya yang selalu jadi staf dan nggak bisa banget jadi pemimpin.

Dan yang saat ini masih terasa mimpi ya opportunity gue bisa jadi PO ESPRIEX 2018.
Gilak sih ini.
Gue nggak tahu kenapa gue bisa dengan beraninya daftar ikutan oprec PO sampe akhirnya jadi Project Officer acara gede se-ASEAN.

Gue nggak mengingkari hal ini nggak bisa terlepas dari gue yang pernah ditempa di Ei Lab. Dengan pengetahuan minim gue tentang startup, BMC, tim kerja yang lean, waktu yang singkat, semuanya bisa menjadi kekuatan gue untuk jadi Project Officer ESPRIEX 2018.

Udah sebersyukur itu gue jadi bagian Ei Lab, gue juga dikasih award jadi Best Staf di kepengurusan periode tahun 2017. Gue nggak tau mau ngomong apa selain terima kasih yang sebesar-besarnya-besar. Yang jelas gue mah selama satu tahun di Ei lab ini nggak pernah merasa tertekan dan ambis karena memang bener-bener enjoy dan melakukan semuanya atas dasar pengen belajar aja.

Sekali lagi makasih Ei Lab.
Makasih atas kesempatannya.
Makasih atas bimbingannya.
Makasih atas segala kepercayaan yang telah diberikan.
Semoga ada tidaknya Ei Lab di periode selanjutnya, bakal tetep memberikan insight positif buat orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya.

Laffff,
-Chiki

1 komentar:

ekanandapna mengatakan...

It's because you rock Ei Lab sis. It would be different if it didnt have you.

Posting Komentar

My Blog List

My Blog List